Karantina Karimun
  Selamat Datang Di Website Resmi Karantina Pertanian Karimun     Ayo Lapor Karantina !!!     Bersama Anda Melindungi Negeri     Selamat Datang Di Website Resmi Karantina Pertanian Karimun     Karantina Karimun Anti KKN  
admintbk2   2019-07-13   16:53:41   46  

DETEKSI SERANGGA HAMA PADA GUDANG PENYIMPANAN BIJI PINANG (Areca catechu)

Oleh Santi Sandra (POPT Muda SKP Kelas II Tanjung Balai Karimun)

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi serangga hama pada gudang penyimpanan biji pinang (Areca catechu). Penelitian dilakukan dengan metode survei menggunakan tiga metode pengambilan sampel, yaitu pengambilan sampel dengan metode hand sampling, metode yellow sticky trap, dan metode dome trap dengan parameter yang diamati adalah: Jenis serangga hama yang ditemukan, populasi serangga hama, dan kelimpahan populasi serangga hama. Penelitian dilaksanakan dari bulan Juli sampai Oktober 2018 pada empat gudang pinang yang ada di Kota Jambi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 28 jenis serangga hama yang ditemukan pada gudang penyimpanan biji pinang dengan menggunakan tiga metode pengambilan sampel. Pada metode hand sampling ditemukan 16 jenis serangga hama, pada metode yellow sticky trap ditemukan 21 jenis serangga hama, dan pada metode dome trap ditemukan 21 jenis serangga hama. Serangga yang dominan di temukan pada keempat gudang penyimpanan adalah Ahasverus advena, Araecerus fasciculatus, Callosobruchus spp., Carpophilus dimidiatus, Cryptolestes ferrugineus, Cryptolestes pusillus, Hypothenemus hampei, Lasioderma serricorne, Lophocateres pusillus, Oryzaephilus mercator, Typhaea stercorea,  dan Tribolium castaneum.

Kata kunci:   Serangga hama, gudang pinang, hand sampling, yellow sticky trap, dome trap.

 

PENDAHULUAN

Pinang (Areca catechu) merupakan komoditas pertanian Indonesia, yang dipasar internasional dikenal dengan sebutan ”betel nut”. Biasanya pinang yang diekspor adalah dalam bentuk biji atau buah utuh (Yudistira, 2014). Buah ini memiliki banyak manfaat diantaranya sebagai bahan baku industri kimia maupun farmasi (obat-obatan), hal ini menyebabkan buah pinang mempunyai prospektif yang baik untuk ekspor (Yudistira, 2014).

Provinsi Jambi merupakan salah satu daerah sentra pinang di Indonesia dan menjadi salah satu andalan ekspor selain komoditas kelapa sawit dan karet. Provinsi Jambi mempunyai tiga wilayah sentra komoditi pinang yang berkualitas baik di Indonesia, yaitu Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur dan Kabupaten Muaro Jambi (Suharyon, 2018). Dari hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Balai Penelitian Kelapa dan Pinang Manado, menyebutkan bahwa kualitas komoditi pinang yang ada di Provinsi Jambi jauh lebih baik dari kualitas komoditi pinang yang ada di Nanggroe Aceh Darussalam (Suharyon, 2018).  Hal ini terkait dengan rendahnya kadar air (dibawah 6%) komoditi pinang yang dihasilkan di tiga daerah tersebut (Miftahurrocman, 2013).  Pada Tahun 2018 Provinsi Jambi mengekspor biji pinang sebanyak 112.811,14 ton (BKPJ, 2018).  Tercatat ada 17 Negara tujuan ekspor berdasarkan laporan tahunan BKP Jambi (2018), diantaranya Thailand, Iran, Afganistan, dan Uni Emirat Arab.  Nilai ekspor pinang dari Provinsi Jambi pada tahun 2018 sebesar 139.330.575 U$ Dolar, nilai ini mengalami peningkatan sebesar 4,98% dari tahun 2017, 132.720.305 U$ Dolar (BPS Jambi, 2019).

Biji pinang yang bernilai ekspor tinggi mempunyai kualitas yang baik, hal ini dapat dilihat dari proses penyimpanan di gudang sebelum diekspor (Miftahorrachman, 2007). Biji pinang yang disimpan dapat mengalami perubahan kualitas dan kuantitas. Serangan serangga pada biji-bijian menyebabkan kerugian kuantitas dan kualitas dan nilai hasil panen menjadi lebih rendah. Serangga tidak hanya mengkonsumsi biji-bijian tetapi juga mencemarinya dengan produk sampingan metabolisme dan bagian-bagian tubuh. Di banyak negara berkembang, kerugian biji-bijian pasca panen secara keseluruhan, yang cukup umum sekitar 10–15% (Neethirajan, 2005).

Serangga yang banyak ditemukan dalam gudang penyimpanan adalah dari golongan kumbang (Ordo Coleoptera). Ada yang berperan sebagai hama utama atau primer dan ada yang berperan sebagai hama sekunder. Kerusakan akibat serangan hama utama pada biji-bijian dalam penyimpanan seperti biji pinang dapat menyebabkan timbulnya lubang-lubang kecil pada biji akibat gerekan serangga hama dan memicu timbulnya hama sekunder yang keberadaannya akan semakin merusak komoditas tersebut. Kumbang merupakan salah satu jenis serangga hama yang cepat berkembangbiak dan dapat beradaptasi dengan lingkungan yang kurang mendukung (Wagiman, 2015).

Ekosistem gudang dengan sumber pakan yang berlimpah dan didukung oleh faktor lingkungan seperti suhu dan kelembaban, ketiadaan musuh alami (minim), dan resistensi organisme terhadap aplikasi insektisida mengakibatkan serangga dapat berubah status menjadi hama (Gullan and Craston, 2010). Menurut Wagiman (2015), ekosistem gudang penyimpanan sangat rentan terhadap ledakan populasi hama apabila pengelolaannya tidak tepat. Deteksi awal serangga merupakan bagian dari kegiatan monitoring dan pengendalian hama berkelanjutan pada gudang penyimpanan (Friamsa et.al, 2017). Minimnya informasi tentang deteksi awal serangga pada gudang penyimpanan biji pinang menyebabkan sulit terdeteksinya kerusakan yang terjadi  pada produk biji pinang yang disimpan. Deteksi yang dilakukan terhadap OPT serangga pada gudang penyimpanan biji pinang selama ini hanya dengan metode hand sampling, jenis OPT yang ditemukan sangat minim berkisar satu sampai tiga jenis serangga. Belum adanya literatur yang mendukung tentang deteksi serangga dan informasi tentang jenis-jenis serangga yang menyerang biji pinang dalam gudang penyimpanan (hanya berupa SOP pemeriksaan sampel yang diterapkan oleh pihak karantina pertanian sebelum biji pinang diekspor), sehingga perlu dilakukan penelitian untuk mendeteksi jenis serangga yang terdapat pada gudang penyimpanan biji pinang dengan menggunakan metode hand sampling, yang dikombinasikan dengan metode lain seperti metode pengambilan sampel dengan perangkap. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi serangga hama pada gudang penyimpanan biji pinang (Areca catechu) dengan menggunakan berbagai metode pengambilan sampel.

 

BAHAN DAN METODE

Penelitian dilaksanakan pada gudang pinang yang ada di Kota Jambi dari bulan Juli sampai Oktober 2018. Pengamatan dilakukan pada empat gudang pinang yang ada di Kota Jambi.

Bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah yellow sticky trap, dome trap storgard, alkohol 70%, kain kasa, plastik sampel, tali plastic, kertas label, Termohigrometer, GPS, kamera, mikroskop stereo, toples plastik, botol vial, kuas, dan buku kunci identifikasi hama gudang.

Rancangan Penelitian

Penelitian dilakukan dengan metode survei menggunakan tiga metode pengambilan sampel, yaitu pengambilan sampel dengan metode hand sampling, metode yellow sticky trap, dan metode dome trap.

Parameter yang diamati adalah:

  1. Jenis serangga hama yang ditemukan
  2. Populasi serangga hama yang diperoleh
  3. Kelimpahan populasi serangga hama yang diperoleh

 

Pelaksanaan Penelitian

  1. Pengambilan Sampel dengan Metode Hand sampling

Pengambilan sampel dilakukan berdasarkan pedoman pengambilan contoh produk tumbuhan untuk pemeriksaan kesehatan media pembawa OPT/OPTK (PKTKHN, 2011). Sampel biji pinang diambil dari lima titik yaitu pada bagian sudut dan bagian tengah (diagonal) pada tiap-tiap gudang penyimpanan biji pinang, masing-masing sebanyak 250 gram, kemudian dimasukkan ke dalam toples dan ditutup dengan kain kasa. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak tujuh kali.

Masing-masing sampel diberi label, kemudian dibawa ke laboratorium. Pengamatan sampel dilakukan seminggu sekali.

 

  1. Pengambilan Sampel dengan Metode Yellow sticky trap

Yellow sticky trap adalah perangkap yang terbuat dari kertas berwarna kuning yang permukaannya telah dilapisi dengan lem perekat. Yellow sticky trap digantungkan pada gudang pinang setinggi ± 2 m dari permukaan lantai gudang, yang ditempatkan disekitar tumpukan karung biji pinang. Setiap gudang pinang dipasang empat perangkap warna. Yellow sticky trap dipasang selama tiga hari. Pengamatan dilakukan dengan interval tiga hari sekali dan diulang sebanyak tujuh kali. Masing-masing sampel diberi label sesuai dengan tempat pengambilannya dan dimasukkan ke dalam botol vial, kemudian dibawa ke laboratorium.

  1. Pengambilan Sampel dengan Metode Dome trap

Dome trap adalah perangkap serangga gudang yang menggunakan atraktan makanan (khairomon) yang dikombinasi dengan feromon sex. Perangkap ini dapat menangkap serangga pradewasa dan serangga dewasa dari Ordo Coleoptera seperti Lasioderma serricorne, Tribolium confusum, Tribolium castaneum, Trogoderma granarium, Trogoderma viriabile, Stegobium paniceum, dan serangga gudang lainnya. Perangkap dome trap diletakkan di lantai gudang penyimpanan biji pinang sebanyak empat perangkap yang dipasang pada empat titik pada setiap gudang penyimpanan biji pinang. Pengamatan dilakukan sebanyak tujuh kali ulangan dengan interval tiga hari sekali.

 

Identifikasi Serangga

Serangga hama yang ditemukan pada gudang pinang diamati menggunakan miroskop stereo, kemudian diidentifikasi berdasarkan karakter atau ciri morfologi menggunakan rujukan bahan pustaka dari Haines C.P., et al. (1991); Schnitzler F-R, et a.l (2014); Rees D. (2007); Rees D. (2004); Hagstrum et al. (2013), dan Halstead (1973).

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil pengamatan dari deteksi serangga hama pada gudang penyimpanan biji pinang ditemukan ada 28 spesies serangga hama dari 18 famili yang dapat dilihat pada Tabel 1.

 

Tabel 1. Hasil identifikasi serangga hama pada gudang penyimpanan biji  pinang

No.

Famili

Spesies

1

Anobiidae

Lasioderma serricorne

2

Anthribiidae

Araecerus fasciculatus

3

Anthicidae

Omonadus floralis

4

Bostrichidae

Rhizopertha dominica

5

Bruchidae

Callosobruchus spp.

6

Cleridae

Necrobia rufipes

7

Laemophloeidae

Cryptolestes ferrugineus

8

 

Cryptolestes pusillus

9

Dermestidae

Attagenus unicolor

10

 

Trogoderma sp.

11

 

Thorictodes heydeni

12

Lophocateridae

Lophocateres pusillus

13

Mycetophagidae

Typhaea stercorea

14

Nitidulidae

Carpophilus dimidiatus

15

Platypodidae

Euplatypus parallelus

16

Scolytidae

Hypothenemus hampei

17

Silvanidae

Ahasverus advena

18

 

Oryzaephylus surrinamensis

19

 

Oryzaephylus Mercator

20

 

Monanus concinnulus

21

 

Silvanus bidentatus

22

Scarabaeidae

Ataenius picinus

23

Staphylinidae

Coproporus sp.

24

Tenebrionidae

Alphitobius laevigatus

25

 

Alphitobius diaperinus

26

 

Tribolium castaneum

27

 

Palorus subdepressus

28

Liposcelididae

Liposcelis sp.

Data yang tercantum pada Tabel 1 menunjukkan bahwa dari hasil pengamatan yang telah dilakukan pada gudang penyimpanan biji pinang ditemukan ada 28 spesies serangga hama yang didominasi oleh serangga dari Ordo Coleoptera. Banyaknya spesies serangga hama yang ditemukan di gudang penyimpanan biji pinang mengindikasikan bahwa pengelolaan gudang peyimpanan belum tepat. Faktor suhu, kelembaban, dan kebersihan sangat berpengaruh terhadap perkembangan populasi serangga hama.

          Sebaran populasi serangga hama yang diperoleh dari gudang penyimpanan biji pinang dengan metode hand sampling ada 16 spesies serangga hama, dengan metode yellow sticky trap ditemukan 21 jenis serangga hama, dan pada metode dome trap ditemukan 21 jenis serangga hama (Gambar 1).

  

Gambar 1. Jenis serangga hama yang ditemukan pada gudang pinang

dengan berbagai metode pengambilan sampel

 

Deteksi serangga hama yang dilakukan pada gudang penyimpanan biji pinang dengan menggunakan tiga metode pengambilan sampel memperlihatkan adanya perbedaan jenis dan jumlah serangga yang diperoleh. Hal ini dikarenakan perbedaan fungsi dari masing-masing metode. Metode hand sampling merupakan metode yang digunakan untuk mendeteksi/menangkap serangga yang terdapat pada biji pinang. Sekaligus untuk monitoring keberadaan serangga hama pada gudang penyimpanan biji pinang. Metode ini memiliki kelebihan, diantaranya mudah dalam pelaksanaan, efektif dan efisien. Tetapi tidak bisa menjangkau secara maksimal keberadaan serangga hama yang berada di dalam gudang penyimpanan, khususnya serangga hama yang aktif terbang. Hal ini akan berdampak terhadap pengelolaan gudang, yaitu terjadinya kerusakan pada produk yang disimpan (Gambar 2). Serangga hama dari jenis Cryptolestes ferrugineus, Araecerus fasciculatus, dan Lasioderma serricorne adalah yang paling banyak ditemukan pada metode hand sampling.

Gambar 2.  Serangga yang ditemukan pada biji pinang (hand sampling) dan kondisi biji pinang pasca infestasi oleh serangga hama

Metode yellow sticky trap atau perangkap warna berperakat merupakan metode untuk mendeteksi/menangkap serangga yang aktif terbang. Adapun kelebihan dari metode ini adalah dapat digunakan untuk memonitor populasi serangga bahkan dalam tingkat kepadatan rendah, dapat dijadikan acuan dalam pengendalian, untuk mendeteksi awal munculnya serangga, praktis, efisien dan murah. Yellow sticky trap juga dapat mendeteksi serangan hama awal secara lebih efisien dari pada pengambilan sampel area unit intensif karena mereka berfungsi untuk mengumpulkan dan memusatkan serangga di dalam area perangkap (Heinz et al., 1982).  Pada metode yellow sticky trap ditemukan bberapa hama dominan dengan populasi cukup tinggi yaitu Cryptolestes ferrugineus, Lasioderma serricorne, dan Typhaea stercorea. Hasil penelitian Rahayu et at. (2013), menyatakan bahwa jumlah populasi serangga Lassioderma serricorne lebih banyak terperangkap pada warna kuning dibandingkan dengan warna putih dan warna lain. Biasanya warna kuning dan hijau yang sering dimanfaatkan untuk menangkap serangga, sesuai dengaan panjang gelombang dari buah yang matang. Sunarno (2011) menyatakan bahwa perangkap warna kuning berperekat (yellow sticky trap) lebih kontras dan mengkilat, sehingga serangga lebih mudah tertarik, bila dibandingkan dengan perangkap warna lain. Sejalan dengan hal di atas, Meyer (2006) menyatakan bahwa kebanyakan serangga hanya memiliki dua tipe pigmen penglihatan yaitu, pigmen yang dapat menyerap warna kuning terang dan hijau, dan pigmen yang menyerap warna merah dan sinar ultraviolet.

Metode dome trap ditujukan untuk memerangkap serangga dewasa dari beberapa spesies penting secara ekonomi, yang tidak terdeteksi dengan metode lain (Toews and Nansen, 2012).  Menurut Toews at al. (2005), pada beberapa jenis serangga lebih tertarik pada perangkap dengan kombinasi feromon dan atraktan makanan (food attractant) daripada salah satu komponen saja. Adanya bau makanan (khairomon) bisa menarik serangga dewasa dan serangga pra dewasa seperti larva dari jenis kumbang. Metode ini cukup efisien digunakan untuk jangka waktu yang lama. Dari hasil pemasangan dome trap ditemukan serangga pradewasa dari Famili Laemophloeidae dan Anobiidae. Hal ini sesuai dengan beberapa penelitian yang menyatakan bahwa ada lebih banyak populasi serangga pra dewasa dibandingkan dengan serangga dewasa yang diperoleh pada kondisi populasi stabil (Friamsa et al., 2017).

Populasi serangga hama yang ditemukan pada gudang penyimpanan biji pinang menggunakan berbagai metode pengambilan sampel dapat dilihat pada Tabel 2.

 

Tabel 2. Populasi serangga hama yang ditemukan pada gudang penyimpanan biji  pinang menggunakan berbagai metode pengambilan sampel

No.

Jenis serangga hama

yang ditemukan

Populasi serangga yang diperoleh (ekor)

Metode hand sampling

Metode perangkap yellow sticky trap

Metode perangkap dome trap

1

Ahasverus advena

2

87

25

2

Alphitobius diaperinus

0

0

4

3

Alphitobius laevigatus

7

0

3

4

Araecerus fasciculatus

103

257

119

5

Ataenius picinus

0

2

0

6

Attagenus unicolor

0

2

52

7

Callosobruchus spp.

1

12

4

8

Carpophilus dimidiatus

5

12

23

9

Coproporus sp.

0

10

28

10

Cryptolestes ferrugineus

3.401

8.347

2.067

11

Cryptolestes pusillus

47

11

161

12

Euplatypus parallelus

0

3

0

13

Hypothenemus hampei

51

7

27

14

Lasioderma serricorne

536

475

65

15

Liposcelis spp.

54

0

1.394

16

Lophocateres pusillus

2

1

1

17

Monanus concinnulus

0

1

0

18

Necrobia rufipes

0

0

4

19

Omonadus sp.

0

32

0

20

Oryzaephilus mercator

5

1

5

21

Oryzaephilus surinamensis

0

0

3

22

Palorus subdepressus

16

0

5

23

Rhyzopertha dominica

0

1

0

24

Silvanus lewisi

0

2

0

25

Thorictodes heydeni

1

0

0

26

Typhaea stercorea

57

359

527

27

Tribolium castaneum

3

80

6

28

Trogoderma sp.

0

4

1

 

Jumlah

4.291

9.706

4.524

 

18.521

 

Tabel 2 menunjukkan bahwa hasil pengamatan deteksi serangga hama pada gudang penyimpanan biji pinang dengan menggunakan berbagai metode pengambilan sampel diperoleh jumlah serangga hama sebanyak 18.521 ekor. Pada metode hand sampling diperoleh serangga hama sebanyak 4.291 ekor, pada metode yellow sticky trap diperoleh serangga hama sebanyak 9.706 ekor, dan pada metode dome trap diperoleh serangga hama sebanyak 4.524 ekor. Berdasarkan data di atas terlihat bahwa Cryptolestes ferrugineus merupakan jenis serangga hama yang dominan ditemukan dengan populasi tertinggi yaitu 13.815 ekor. Serangga dari spesies Ahasverus advena, Araecerus fasciculatus, Callosobruchus spp, Carpophilus dimidiatus, Cryptolestes ferrugineus, Cryptolestes pusillus, Hypothenemus hampei, Lasioderma serricorne, Lophocateres pusillus, Oryzaephilus mercator, Typhaea stercorea, dan Tribolium castaneum merupakan jenis serangga hama yang dominan ditemukan pada keempat gudang penyimpanan biji pinang dengan menggunakan tiga metode pengumpulan sampel. Tingginya populasi serangga hama pada gudang penyimpanan biji pinang dapat diakibatkan karena kondisi fisik biji pinang yang ada di dalam gudang penyimpanan, dimana terdapat biji pinang dengan kadar air yang tinggi yaitu 17-20%. Pecahan biji pinang yang terdapat pada gudang penyimpanan bisa menjadi tempat berkembangbiaknya hama sekunder.  Kondisi dan suhu gudang juga dapat berpengaruh terhadap populasi serangga hama. Kondisi gudang pada saat penelitian menunjukkan suhu gudang berkisar antara 28-37°C dengan kelembaban 43-65%.  Secara umum suhu gudang penyimpanan di Indonesia berkisar antara 22-34°C dengan kelembaban berkisar 52-99%. Hal ini sangat mendukung perkembangbiakan serangga hama dalam gudang penyimpanan.  Sementara syarat gudang yang ideal memiliki suhu ruang 18°C dan kelembaban ruang 65%, dimana pada kondisi ini kehidupan serangga dan jamur akan terhambat (Wagiman, 2015).

Hasil pengamatan kelimpahan populasi serangga hama pada gudang penyimpanan biji pinang menunjukkan bahwa serangga Cryptolestes ferrugineus, Liposcelis spp., Lasioderma serricorne, dan Typhaea stercorea merupakan jenis serangga hama yang paling dominan ditemukan di gudang penyimpanan pinang dengan persentase individu yang tertangkap sebesar 74,59%, 7,82%, 5,81%, dan 5,09%  (Tabel 3).

 

Tabel 3. Kelimpahan populasi serangga hama pada gudang penyimpanan biji pinang dari pengamatan pertama sampai dengan pengamatan ketujuh

No

Jenis serangga hama

Pengamatan ke-

Total

%

1

2

3

4

5

6

7

1

Cryptolestes ferrugineus

3061

3524

2292

1476

1253

1149

1060

13815

74,59

2

Liposcelis spp.

313

693

136

55

103

88

60

1448

7,82

3

Lasioderma serricorne

177

333

23

141

162

117

123

1076

5,81

4

Typhaea stercorea

154

233

112

34

154

99

157

943

5,09

5

Araecerus fasciculatus

116

93

31

13

75

88

63

479

2,59

6

Cryptolestes pusillus

31

69

41

35

26

7

10

219

1,18

7

Ahasverus advena

3

3

17

12

23

16

40

114

0,62

8

Tribolium castaneum

6

14

31

18

11

4

5

89

0,48

9

Hypothenemus hampei

14

36

2

13

7

7

6

85

0,46

10

Attagenus unicolor

14

16

12

5

1

4

2

54

0,29

11

Carpophilus dimidiatus

7

7

2

5

4

5

10

40

0,21

12

Coproporus sp.

16

9

1

1

6

4

1

38

0,20

13

Omonadus sp

0

4

0

0

24

2

2

32

0,17

14

Palorus subdepressus

8

2

1

3

2

2

3

21

0,11

15

Callosobruchus spp.

1

1

2

1

3

8

1

17

0,09

16

Oryzaephilus mercator

2

1

3

2

1

0

2

11

0,06

17

Alphitobius laevigatus

1

1

5

0

1

0

2

10

0,05

18

Trogoderma sp.

1

3

0

0

0

1

0

5

0,03

19

Alphitobius diaperinus

3

1

0

0

0

0

0

4

0,02

20

Euplatypus parallelus

0

0

0

0

3

0

0

3

0,02

21

Lophocateres pusillus

0

1

1

0

0

2

0

4

0,02

22

Necrobia rufipes

0

0

0

2

1

0

1

4

0,02

23

Oryzaephilus surinamensis

2

0

1

0

0

0

0

3

0,02

24

Ataenius picinus

0

2

0

0

0

0

0

2

0,01

25

Monanus concinnulus

0

0

0

0

1

0

0

1

0,01

26

Rhyzopertha dominica

0

0

0

0

1

0

0

1

0,01

27

Silvanus lewisi

0

0

0

0

0

2

0

2

0,01

28

Thorictodes heydeni

0

0

1

0

0

0

0

1

0,01

 

Total

3930

5046

2714

1816

1862

1605

1548

18521

100

 

Kelimpahan populasi serangga berdasarkan komposisi serangga yang berperan sebagai hama sekunder lebih besar atau mendominasi yaitu sebesar 91,14%.  Keberadaan hama sekunder yang begitu besar mengindikasikan terdapat kerusakan pada produk simpanan di gudang pinang. Hama sekunder menyerang biji yang tidak utuh atau rusak. Kerusakan biji tersebut dimungkinkan oleh serangan dari hama utama maupun kondisi biji yang sudah tidak utuh pada saat penyimpanan. Sedangkan komposisi serangga yang berperan sebagai hama primer yaitu sebesar 8,86%. Meskipun komposisi hama utama lebih kecil daripada hama sekunder, namun keberadaan hama utama dapat menimbulkan kerusakan yang serius pada biji pinang dalam gudang penyimpanan. Kerusakan tersebut mengakibatkan biji tidak utuh sehingga dapat meningkatkan munculnya hama sekunder pada gudang penyimpanan biji pinang. Keberadaan hama utama ini dimungkinkan rendahnya populasi predator di gudang penyimpanan biji pinang, sehingga tidak dapat menekan populasi hama utama ini.

KESIMPULAN

Jenis serangga yang ditemukan pada gudang penyimpanan biji pinang dengan menggunakan ketiga metode pengambilan sampel ada 28 jenis serangga hama. Pada metode hand sampling ditemukan 16 jenis serangga hama, pada metode yellow sticky trap ditemukan 21 jenis serangga hama, pada metode dome trap ditemukan 21 jenis serangga hama.

Serangga yang dominan di temukan pada gudang penyimpanan biji pinang dengan menggunakan ketiga metode pengambilan sampel yaitu Ahasverus advena, Araecerus fasciculatus, Callosobruchus spp., Carpophilus dimidiatus, Cryptolestes ferrugineus, Cryptolestes pusillus, Hypothenemus hampei, Lasioderma serricorne, Lophocateres pusillus, Oryzaephilus mercator, Typhaea stercorea,  dan Tribolium castaneum.

DAFTAR PUSTAKA

BPS Provinsi Jambi. 2019. Perkembangan Ekspor Impor Provinsi Jambi. No. 08/02/15/Th.XIII, 1 Februari 2019. https://jambi.bps.go.id/pressrelease/ desember-2018--nilai-ekspor-asal-provinsi-jambi.html. Diunduh tanggal 10 April 2019.

Balai Karantina Pertanian Jambi [BKPJ]. 2018. Laporan Tahunan BKP Kelas I Jambi tahun 2018. Badan Karantina Pertanian. Jambi.

Friamsa, N., Witjaksono dan A. Wijanarko. 2017. Keanekaragaman Jenis Kumbang Hama pada Gudang Penyimpanan Pakan di Provinsi Banten. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Jurnal online.

Hagstrum, D.W, T. Klejdysz, B. Subramanyam and J. Nawrot. 2013. Atlas of Stored-product Insect and Mites. AACC International, Inc. St. Paul, Minnesota, United State of America.

Heinz, K. M., M.P. Parella and J.P Newman. 1992. Time Effecient Used Of Yellow Sticky Trap In Monitoring Insect Population. J. Economic Entomology 85(6): 2263 - 2269. Entomological Society of America.

Miftahorrachman. 2013. Jambi Penghasil Komoditi Pinang Terbaik. IAARD Press. Bogor.

_____. 2007. Sidik Lintas Plasma Nutfah Pinang (Areca catechu L.) Asal Propinsi Kalimantan Barat. Jurnal Littri.

Meyer, R. J. 2006. Color Vision. Departement Of Entomology. NC State University. https://entomology.ces.ncsu.edu/. Dalam Sunarno. Ketertarikan Serangga Hama Lalat Buah Terhadap Berbagai Papan Perangkap Warna sebagai salah satu Teknik Pengendalian. Jurnal Agroforest. 6(2): 130-134.

Neethirajan, S., C. Karunakaran, D.S. Jayas and N.D.G. White. 2007. Detection techniques for stored-product insects in grain. Food Control 18 : 157–162. Elsevier Ltd.www.sciencedirect.com

Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati [PKTKHN]. 2011. Pedoman Pengambilan Contoh Produk Tumbuhan untuk Pemeriksaan Kesehatan Media Pembawa OPT/OPTK. Badan Karantina Pertanian. Jakarta.

Rahayu, S., M.C. Tobing dan Y. Pengestiningsih. 2013. Pengaruh Perangkap Warna Berperekat Dan Aroma Rempah untuk Mengendalikan Hama Gudang Lasioderma serricorne F. (Coleoptera : Anobiidae) di Gudang Tembakau. J. Online Agroekoteknologi 1(4): 1382-1390.

Ress, D. 2007. Insect of Stored Grain. Csiro Publishing. Second edition. Autralia.

______. 2004. Insects of Stored Products. CSIRO Publishing. National Library of Australia Cataloguing-in-Publication entry. Australia.

Schnitzler, F.R., R. Campbell, L. Kumarasinghe, D. Voice, and S. George. 2014. Identification Guide to Coleoptera Adults Intercepted on Trade Pathways. Buletin of the Entomological Society of New Zealand. New Zealand.

Suharyon. 2018. Potensi Efisiensi Pemasaran Pinang Terhadap Sosial Ekonomi Di Kecamatan Betara Kabupaten Tanjung Jabung Barat Provinsi Jambi. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jambi. J. Ilmiah Ilmu Terapan Universitas Jambi 2(2): 144-160.

Sunarno. 2011. Ketertarikan Serangga Hama Lalat Buah Terhadap Berbagai Papan Perangkap Warna Sebagai Salah Satu Teknik Pengendalian. Jurnal Agroforest (2): 130-134.

Sunjaya dan S. Widayanti. 2009. Pengenalan Serangga Hama Gudang. Di dalam: Pengelolaan Hama Gudang Terpadu. Southeast Asian Regional Centre for Tropical Biology (SEAMEO BIOTROP). Kementerian Lingkungan Hidup. United Nation Industrial Development Organization (UNIDO).

Toews, M.D and C. Nansen. 2012. Trapping and Interpreting Captures of Stored Grain Insects. In: Stored Product Protection. K-State Research and Extension, Kansas, United State.

Toews, M.D., J.F. Campbell, F.H. Arthur, & M. West. 2005. Monitoring Tribolium castaneum (Coleoptera: Tenebrionidae) in pilot-scale warehouses treated with residual applications of (S)-hydroprene and cyfluthrin. J. Econ. Entomology 98(4): 1391-1398

Wagiman, F.X. 2015. Hama Pascapanen dan Pengelolaannya. Cetakan kedua. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Yudistira, N.O., D. Bakti, dan F. Zahara. 2014. Metil Bromida (CH3Br) sebagai Fumigan Hama Gudang Areca Nut wevil (Araecerus fasciculatus) (Coleoptera: Anthribidae) pada Biji Pinang. J. Online Agroekoteknologi. 2(4): 1634-1639.

 

Karya Ilmiah Lainnya

VIDEO KARANTINA

AGENDA KEGIATAN

PENGUMUMAN

  • Larangan Ekspor Lidi (broom stick) ke negara India (download)

  • Nota Kesepahaman Antara BC, BARANTAN DAN BKIPM-KP tentang Kerjasama Dalam Pelayanan Pengawasan Impor dan Ekspor Komoditas Wajib Periksa Karantina (download)

  • Himbauan untuk tidak mengambil cuti tahunan sebelum atau sesudah cuti bersama idul fitri 1438 H (download)

  • -- lainnya --

    DISEASES ALERT

  • Pencegahan penyebaran Spodoptera frugiperda dan Bactrocera (download)  tanggal 22 Februari 2019

  • Wabah Caprine arthritis-encephalitis di Singapura, Waspada pemasukan domba-kambing & produknya dr Singapura (download) 23 Januari 2019

  • Wabah Flu Burung, Larangan Pemasukan Unggas dan Produk Unggas Segar dari Malaysia  (download)  tanggal 09  Agustus 2018

  • -- lainnya --

    Karantina Karimun