Selamat datang di website Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Tanjung Balai Karimun       Bersama Anda Melindungi Negeri       Tidak Menerima Gratifikasi Baik Berupa Uang, Parcel Dan Bentuk Lainnya   

Hama Dan Penyakit Tanaman Pepaya di Kabupaten Karimun

Pepaya (Carica papaya L) merupakan tanaman buah yang diintroduksi dari Amerika Tengah yang cukup populer di Indonesia. Hampir seluruh bagian tanaman ini dapat dimanfaatkan, baik buah, daun, bunga dan akarnya dapat digunakan sebagai bahan pangan, kosmetik dan obat-obatan.

Selain varietas lokal yang berkembang di masing-masing daerah, varietas unggul pepaya hasil introduksi seperti pepaya Eksotika, Sunrise Solo, Bangkok, Red King, dan California juga sudah banyak diusahakan (Indriyani, 2008).

Pada umumnya budidaya tanaman pepaya di Indonesia bersifat skala kecil atau lebih kepada tanaman pekarangan (Rukmana, 1998). Budidaya tanaman pepaya di kabupaten Karimun provinsi Kepualauan Riau juga banyak dilakukan sebagai tanaman pekarangan. Selain banyak kegunaannya, tanaman ini mudah tumbuh sehingga banyak dijumpai di setiap pekarangan penduduk. Budidaya tanaman pepaya dalam skala kecil hingga sedang dapat ditemukan di kecamatan Meral, Meral Barat, Kundur dan Kundur Barat. Umumnya budidaya tanaman pepaya di kabupaten Karimun memilki karakteristik: Dicampur dengan tanaman lain (misal cabe, jagung dan Kangung), Menggunakan drainase sumur artesis. Pemasaran hasil panen tanaman ini biasanya dilakukan oleh pengumpul yang langsung mengambil buah di loaksi kebun.

Menurut Pramyudi (2012) salah satu kendala dalam penanaman pepaya di daerah tropis adalah tingginya serangan hama dan penyakit. Curah hujan dan kelembaban yang tinggi sepanjang tahun mengakibatkan perkembangan hama yang sangat cepat. Fluktuasi suhu yang ekstrem juga berperan dalam penyebaran hama. Mengingat skala usaha budidaya tanaman di Kabupaten Karimun masih dalam kecil dan sederhana, serangan hama dan penyakit tidak cepat dikendalikan. Hal ini akan memperparah penyebaran serangan hama dan penyakit.

Beberapa hama dan penyakit yang menyerang tanaman pepaya di kabupaten Karimun dan sekitarnya berdasarkan hasil survei Tim Pemantauan SKP Kelas II TB Karimun adalah : Lalat Buah (Bactocera papayae, Diptera: Tephritidae), Kutu Putih Pepaya (Paracocus marginatus, Hemiptera: Pseudococcidae), dan Busuk Bakteri (Erwnia papayae, Enterobacteriales: Enterobacteriaceae).

  1. Lalat Buah (Bactocera papayae Drew&Hancock, Diptera: Tephritidae)

    Lalat buah telah dikenal luas sebagai hama penting pada tanaman buah-buahan. Hama ini menyebabkan kerusakan yang serius pada berbagai buah yang tumbuh di Indonesia (Astriani, 2011). Dampak akibat serangan lalat buah ini adalah kehilangan panen hingga 100%, buah yang tak layak konsumsi dan buah yang tak layak jual atau ekspor.

    Umumnya lalat buah yang menyerang tanaman pepaya adalah Bactrocera papayae Drew&Hancock. Lalat buah ini bersifat polifag, mempunyai sekitar 26 jenis inang seperti belimbing manis, jambu biji, tomat, cabai merah, melon, apel, nangka, mangga, dan jambu air. (Kalie, 1994).

    Gambar 1. Lalat Buah Bactrocera papayae (foto oleh: Rahman H)

    Buah pepaya yang terserang hama ini memiliki gejala pada buah yang hampir masak terdapat bintik-bintik hitam bekas tusukan ovipositor lalat buah betina ketika memasukan telur ke dalam jaringan buah. Pada gejala lebih lanjut buah menjadi cepat busuk sehingga buah berwarna coklat, tidak menarik dan terasa pahit bila dimakan, hal ini disebabkan oleh enzim yang dihasilkan larva lalat buah guna melunakkan daging buah sehingga dapat dicerna larva lalat buah (Indriani, 2008).

    Siklus hidup lalat buah dewasa berkisar 30 hingga 90 hari, pada usia 8 hingga 18 hari setelah fase pupa lalat buah melakukan kawin. Telur yang diletakkan di permukaan kulit buah dapat menetas setelah 37-48 jam, fase larva biasanya berkisar antara 7-16 hari dan Fase pupa berlangsung 7 sampai 13 hari di dalam tanah (Christenson dan Foote, 1960 dalam Affandi, 2006).

    Pengendalian Bactrocera papaye

    Menurut Indryani (2008) pengendalian hama lalat buah ini bisa dilakukan dengan pembungkusan buah sejak buah kecil, penngumpulan buah yang busuk dan terserang lalat buah dan dipndam dengan kedalam minimal 30 cm, pendangiran tanah untuk mematikan pupa, penggunaan mulsa untuk mencegah pupa masuk ke dalam tanah, Penggunaan perangkap Methyl Eugenol (ME) atau Cue Lure (CU), Pemanfaatan musuh alami Biosteres arisanus, B. longicaudatus dan Opius sp.

    Selain metode pengendalian di atas penerapan peraturan Karantina secara ketat yang melarang pemasukan buah yang terserang dari endemi lalat buah (Affandi, 2006)

  2. Kutu Putih Pepaya (Paracocus marginatus Williams and Granara de Willink, Hemiptera: Pseudococcidae)

    Hama kutu putih merupakan hama yang memiliki kisaran inang yang cukup luas. Hama ini memiliki lebih dari 25 suku tanaman yang bernilai ekonomi sebagai inangnya, di antaranya tanaman pepaya, ubi kayu, jarak pagar, tomat, alpukat melon, dan kembang sepatu. Selain itu, hama ini juga menyerang tanaman jambu, jagung dan akasia (Miller dan Miller 2002 dalam Pramyudi 2012).

    Gambar 2. Serangan Hama Kutu Putih (Sumber www.teca.fao.org)

    Hama ini merupakan hama baru yang menjadi masalah penting pada pertanaman pepaya di Indonesia. Serangga ini diketahui keberadaannya pertama kali pada bulan Mei 2008 pada tanaman pepaya di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat (Rauf, 2013). Hingga akhir 2008 persebaran hama ini di Indonesia masih terbatas di Bogor dan sekitarnya seperti Jakarta, Tangerang, Sukabumi, dan Cianjur. Pada pertengahan 2009, kutu putih pepaya dilaporkan telah menyebar ke Jawa Tengah, Yogyakarta, Bali, Lampung, Riau, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Utara. Kini hama ini telah ditemukan diseluruh wilayah Nusantara, termasuk Nusa Tenggara Timur dan Papua.

    Hama kutu putih biasanya bergerombol sampai puluhan ribu ekor. Mereka merusak dengan cara mengisap cairan. Semua bagian tanaman bisa diserangnya dari buah sampai pucuk. Serangan pada pucuk menyebabkan daun kerdil dan keriput seperti terbakar. Hama ini juga menghasilkan embun madu yang kemudian ditumbuhi cendawan jelaga sehingga tanaman yang diserang akan berwarna hitam (Pramyudi, 2012).

    Gambar 3. Imago Kutu Putih Pepaya P. Margnatus (sumber: www.vtnes.vt.edu)

    Pada keadaan serangan berat, seluruh permukaan bawah daun pepaya penuh ditutupi kutu yang menyebabkan daun mengering dan akhirnya tanaman mati. Serangan berat pada buah dapat menyebabkan buah tidak laku dijual atau dimakan karena terbentuknya lapisan lilin tebal pada permukaan buah (Rauf, 2013).

    Pengendalian Paracocus marginatus

    Meurut Rauf (2013) kutu putih umumnya sulit dikendalikan dengan insektisida. Ada beberapa karakteristik biologi yang membuat pengendalian kimiawi kurang efektif: Lapisan lilin menutupi stadia telur sampai dengan imago. Hanya nimfa instar-1 yang relatif bebas dari lilin. Lilin ini mampu melindungi kutu dari insektisida yang diaplikasikan. Kutu putih kadangkala ditemukan pada tempat yang terlindung seperti di balik buah atau rangkaian pucuk dimana insektisida yang diaplikasikan tidak dapat mengenainya.

    Kutu putih bersifat polifag dengan inang mencakup berbagai jenis gulma yang tumbuh di sekitar pertanaman. Dengan demikian, tanaman yang telah disemprot dapat dengan segera mengalami infestasi ulang.

    Pengendalian kutu putih lebih mudah dilakukan pada populasi hama yang masih sedikit dengan menyemprotkan air sabun (diterjen) dengan konsentrasi 1-2%. Pengendalian mekanis ini lebih baik lagi bila menggunakan semprotan yang bertekanan tinggi sehingga hama ini dapat terlepeas dari buah (Rauf, 2013).

  3. Busuk Bakteri (Erwnia papayae, Enterobacteriales: Enterobacteriaceae)

    Menurut Vawdrey (2011) Erwinia papaye termasuk dalam ordo Enterobacteriales dan famili Enterobacteriacea. Bakteri ini tergolong dalam bakteri gram negatif yang berbentuk batang (rod). Penyakit yang diakibatkan oleh bakteri ini biasanya disebut penyakit busuk pucuk, kanker batang dan penyakit rebah.

    Metode penyebaran utama Erwinia papayae adalah melalui percikan air hujan. Bakteri ini dapat menyerang tanaman sehat melalui lubang alami atau luka pada tanaman (Obero 1980 dalam Vawdrey, 2011). Penyakit ini juga dilaporkan dapat menular melalui biji (seed borne). Erwinia papaye tidak dapat bertahan lama pada akar tanaman sakit yang membusuk dalam tanah, namun apabila terdapat inang alternativ seperti kacang tunggak, belewah dan tomat bakteri ini dapat hidup lebih lama (Webb, 1985).

    Pepaya yang terserang bakteri ini menunjukkan gejala berupa tangkai daun dan batang yang masih hijau terdapat bercak kebasah-basahan.

    Gambar 4. Daun dan tangkai daun muda terserang E. papayae

    Pada tanaman muda daun menguning dan membusuk. Setelah beberapa lama bagian tunas-tunas muda mangalami kematian. Pada helain daun yang besar terdapat bercak-bercak kering yang bentuknya tidak teratur, selanjutnya meluas sepanjang tulang-tulang daun. Jika penyakit telah meyerang batang, batang akan membusuk, semua daunnya akan gugur dan pada akhirnya diikuti oleh matinya seluruh tanaman (Indriyani dkk., 2008).

    Penyakit akibat serangan Erwinia papayae ini memiliki arti penting karena dapat menurunkan hasil panen, rusaknya kualitas buah dan hingga kematian pada tanaman.

    Gambar 5. Pucuk tanaman yang terserang E. papayae

    Pengendalian Penyakit Busuk Erwnia papayae

    Beberapa metode pengendalian untuk penyakit ini adalah: Pembongkaran Tanaman Sakit sebelum memasuki musim hujan, penggunaan pestisida dengan bahan aktif tembaga hidroksida, penggunaan benih yang bebas Erwnia papayae dan penggunaan varietas pepaya yang tahan akan serangan bakteri ini adalah jalan terbaik penegndalian penyakit ini.

Referensi

Affandi, 2006, Penngenalan Dan Pengendalian Hama dan Penyakit Penting Tanaman Pepaya, Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian, Solok
Astriani Dian,2011, Disinfestasi Lalat Buah (Bactrocera dorsalis Hendel) Pada Buah Belimbing Manis Dengan Perlakuan Perendaman Dengan Menggunakan ekstran Bagian Tanaman Pepaya, Jurnal Agrisains, Hal 56-66
Indriyani Ni Luh Putu, Affandi, Diah Sunarwati, 2008, Pengelolaan Kebun Pepaya Sehat, Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Bogor
Kalie Moehd Baga, 1994, Bertanam Pepaya, Penebar Swadaya, Bogor
Pramayudi Nur dan Hartati Oktarina, 2012, Biologi Hama Kutu Putih Pepaya (Paracoccus marginatus) Pada Tanaman Pepaya, Jurnal Floratek 7 halaman 32 – 44, Universitas Syah Kuala, Aceh
Rukmana Rahmat, 1998, Seri budidaya Pepaya, Kanisius, Yogyakarta
Vawdrey Lynton, July 2011, Bacterial Crown Rot Erwinia papayae, Contingency Plan, Plant Health Australia
http://www.planthealthaustralia.com.au/wp-content/uploads/2013/03/Bacterial-crown-rot-CP.pdf. Diakses tanggal 20 Mei 2015 Webb RR, 1985, Epidemiology and Control of Bacterial Canker Of Papaya Caused By An Erwinia sp. on St. Croix, U.S. Virgin Islands. Plant Disease
http://www.apsnet.org/publications/PlantDisease/BackIssues/Documents/1985Articles/PlantDisease69n04_305.pdf. Diakses tanggal 21 Mei 2015 Rauf Aunu dan Dewi Sartiami, Kutu Putih Pepaya (Paracoccus marginatus) http://apps.cs.ipb.ac.id/ipm/main/komoditi/detail/11 Diakses tanggal 20 Mei 2015

VIDEO KARANTINA

AGENDA KEGIATAN