Selamat datang di website Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Tanjung Balai Karimun       Bersama Anda Melindungi Negeri       Tidak Menerima Gratifikasi Baik Berupa Uang, Parcel Dan Bentuk Lainnya   

Penyakit Penting Pada Tanaman Karet

Karet (Havea brasiliensis) merupakan salah satu komoditi perkebunan yang penting, baik sebagai sumber pendapatan, kesempatan kerja dan devisa, pendorong pertumbuhan ekonomi di sentra-sentra baru di wilayah perkebunan karet maupun pelestarian lingkungan dan sumberdaya hayati. Namun sebagai negara dengan luas areal terbesar dan produksi terbesar kedua dunia, Indonesia masih menghadapi beberapa kendala yaitu rendahnya produktivitas, terutama karet rakyat yang merupakan mayoritas (91 %) areal karet nasional dan ragam produk olahan yang masih terbatas, yang masih didominasi oleh karet remah (crumb rubber). Indonesia memiliki areal perkebunan karet terluas di dunia yaitu sekitar 3,40 pada tahun 2007, namun dari sisi produksi hanya berada pada posisi kedua setelah Thailand yakni 2,76 juta ton. Produktivitas karet rakyat masih relatif rendah yakni 700-900 kg/ha/tahun. Rendahnya produktivitas karet salah satunya disebabkan oleh penyakit tanaman.

Penyakit pada tanaman karet merupakan salah satu faktor penggangu yang penting daripada gangguan masalah lainnya, dan bahkan sering kali dapat menggagalkan satu usaha pertanaman. Penyakit tanaman karet dapat dijumpai sejak tanaman di pembibitan sampai di tanaman yang telah tua, dari bagian akar sampai pada daun. Penyebab penyakit pada karet umumnya disebabkan oleh cendawan dan sampai saat ini belum diketahui adanya penyakit yang disebabkan oleh bakteri, virus atau patogen lainnya.

Diagnosa penyakit yang tepat dan cepat akan sangat menentukan keberhasilan penanggulangan penyakit. Sampai saat ini cara-cara penanggulangan penyakit karet yang dianjurkan dapat berupa kombinasi dari aspek kultur teknis, manipulasi lingkungan, dan atau penggunaan pestisida, atau masing-masing aspek tersebut. Khusus dalam penggunaan pestisida, perlu diperhatikan akan dampak negatifnya terhadap manusia, lingkungan, tanaman dan organisme mengganggunya itu sendiri.

Penyakit penting yang menyerang tanaman karet yaitu Jamur Akar Putih (JAP), Kering Alur Sadap (KAS), gugur daun Corynospora, Colletotrichum dan Oidium.

    • Penyakit Jamur Akar Putih

      Penyakit Jamur Akar Putih disebabkan oleh Rigidoporus lignosus atau R. Microporus yang menyerang akar tunggang maupun akar lateral. Penyakit ini dapat mengakibatkan kematian tanaman dengan intensitas yang sangat tinggi terutama pada tanaman karet yang berumur 2-4 tahun. Serangan dapat terjadi mulai pada pembibitan, tanaman belum menghasilkan (TBM) sampai tanaman menghasikan (TM). Pada permukaan akar terserang ditumbuhi benang-benang jamur berwarna putih kekuningan dan pipih menyerupai akar rambut. Benang-benang tersebut menempel kuat pada akar sehingga sulit dilepas. Akar tanaman yang sakit akhirnya membusuk, lunak dan berwarna coklat. Gejala ini baru terlihat apabila daerah perakaran dibuka.

      Tanaman yang terserang daun-daunnya berwarna hijau kusam, layu dan gugur, kemudian diikuti dengan kematian tanaman. Jamur ini menular melalui kontak langsung antara akar atau tunggul yang sakit dengan akar tanaman sehat. Spora dapat juga disebarkan oleh angin yang jatuh di tunggul dan sisa kayu akan tumbuh membentuk koloni. Umumnya penyakit akar terjadi pada pertanaman bekas hutan atau tanaman, karena banyak tunggul dan sisa-sisa akar sakit dari tanaman sebelumnya yang tertinggal di dalam tanah yang menjadi sumber penyakit.

      Gambar 1. Stadium awal JAP hanya melekat pada permukaan akar (Yulfahri, dkk., 2012)
      Gambar 2. Bagian hitam menandakan akar tersebut telah mati (Yulfahri, dkk., 2012)

      Apabila ada tanaman yang daun-daunnya berwarna hijau gelap atau kusam, permukaan daun menelungkup, adakalanya membentuk bunga dan buah padahal belum sesuai dengan umurnya, maka perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan membuka tanah di sekitar pangkal batang tanaman untuk melihat tingkat serangan penyakit. Tingkat serangan penyakit jamur akar putih pada tanaman karet adalah sebagai berikut:

      • Ringan :Benang jamur berwarna putih baru menempel di permukaan akar atau kulit akar mulai membusuk karena serangan jamur.

      • Berat : kulit dan kayu akar sudah membusuk karena serangan jamur.

      Cara meyakinkan adanya serangan jamur akar putih pada suatu areal pertanaman karet, dilakukan dengan menutup leher akar tanaman yang dicurigai dengan mulsa/serasah/rumput kering, 2-3 minggu kemudian akan tampak benang-benang jamur yang melekat pada leher akar apabila mulsa diangkat. Pengamatan tajuk tanaman untuk keseluruhan areal kebun karet dilakukan setiap 3 bulan, dimulai sejak tanaman berumur 6 bulan. Pemeriksaan dengan menggunakan mulsa dilakukan setiap 6 bulan yaitu pada awal dan akhir musim hujan.

      Pengendalian penyakit jamur akar putih diarahkan kepada pencegahan pertambahan tanaman terserang. Cara pencegahan penyakit jamur akar putih adalah:

      • Satu meter di sekitar tanaman karet harus bersih dari sisa-sisa akar dan tunggul tanaman lainnya. Sisa akar dan tunggul ini harus dibongkar dan dibakar supaya tidak menjadi sumber penyakit.

      • Menanam tanaman penutup tanah minimal satu tahun lebih awal dari penanaman karet. Tanaman yang dianjurkan adalah jenis kacang-kacangan seperti Calopogonium muconoides atau C. caeruleum, Centrosema pubescens, Pueraria javanica. Jenis tanaman ini dapat membantu aktivitas mikroba untuk mempercepat pembusukan sisa-sisa akar dan tunggul tanaman sehingga dapat menekan perkembangan jamur penyebab penyakit.

      • Sebelum penanaman, lubang tanam ditaburi biakan jamur Trichoderma harzianum yang telah dicampur dengan kompos sebanyak 200 gram per lubang tanam (1 kg T. harzianum dicampur dengan 50 kg kompos/pupuk kandang). Tanam bibit tanaman yang sehat bebas dari jamur akar putih. Pada radius 30-100 cm di sekeliling tanaman (seluas tajuk tanaman) dilakukan penaburan 100-150 gram serbuk belerang yang dibenamkan ke dalam tanah dengan menggunakan garpu. Kegiatan ini diulang setiap 6 sampai 12 bulan sampai tanaman karet berumur 6 tahun. Sebagai pengganti belerang dapat digunakan pupuk Ammonium Sulfat (ZA) sesuai dosis anjuran dengan cara ditaburkan di sekitar tanaman. Diantara tanaman karet tidak dianjurkan ditanami tanaman sela yang merupakan inang jamur penyebab penyakit seperti ubi jalar, ubi kayu dan sebagainya.
        Cara pengendalian penyakit jamur akar putih pada areal pertanaman karet yang sudah terserang antara lain:

        • Dari hasil pemeriksaan leher akar tanaman yang dicurigai dapat diketahui tingkat serangan jamur akar putih. Tanaman yang terserang berat atau telah mati/tumbang harus segera dibongkar secara menyeluruh dan dibakar di luar areal pertanaman. Sisa-sisa akar harus dibersihkan kemudian bekas lubang dan 4 tanaman di sekitarnya ditaburi dengan Trichoderma harzianum yang telah dicampur dengan pupuk kandang sebanyak 200 gram per lubang atau tanaman. Menanam tanaman marygold (Tithonia diversifolia) di dalam bekas lubang yang dibongkar dan di sekitar tanaman karet dengan jarak 1 meter diantara 2 barisan tanaman.

        • Membuka dan membuat lubang tanam 30 cm disekitar leher akar dengan kedalaman sesuai serangan jamur. Benang-benang jamur yang menempel pada akar dikerok dengan alat yang sudah tumpul agar tidak melukai akar, bagian akar yang sudah busuk dipotong dan dikumpulkan untuk dibakar.

        • Tanaman yang telah diobati diperiksa kembali 6 bulan setelah pengolesan dengan membuka leher akar. Bila masih terdapat benang-benang jamur, maka dilakukan pengobatan kembali. Pengolesan atau penyiraman akar dilakukan setiap 6 bulan sekali sampai tanaman menjadi sehat. Metode penyiraman dilakukan pada tanaman muda dengan cara membuka tanah di sekitar tanaman sedalam 8-10 cm sesuai umur tanaman.

    • Penyakit Kering Alur Sadap (KAS)

      Kering alur sadap (KAS) atau dikenal dengan istilah kulit dalam cokelat (bruine binnenbast atau brown bark atau bark dryness atau brown bast) yang sering disingkat menjadi BB merupakan penyakit yang sampai saat ini belum diketahui secara pasti penyebab utamanya. Penyakit ini telah diketahui sejak awal budidaya karet dilakukan dan akhir-akhir ini mulai menimbulkan masalah serius di beberapa negara penghasil karet alam.

      Penyakit Kering Alur Sadap (KAS) mengakibatkan kekeringan alur sadap sehingga tidak mengalirkan lateks, namun penyakit ini tidak mematikan tanaman. Gejala KAS ditandai dengan terdapatnya bagian-bagian alur sadap yang tidak mengeluarkan lateks. Bagian-bagian tersebut kemudian meluas dan akhirnya seluruh pohon tidak mengeluarkan lateks sama sekali. Kulit sebelah dalam bagian yang sakit berubah warna menjadi cokelat. Akibat perubahan hormon di sekitar kulit yang mati adakalanya terbentuk kambium sekunder sehingga menjadi pecah-pecah atau terbentuk tonjolan-tonjolan yang tidak teratur, sehingga penyadapan sulit dilakukan. Usaha-usaha untuk mencegah penyakit kekeringan kulit dapat dilakukan dengan cara penanaman klon tahan, kultur teknis yang sesuai dan eksploitasi yang tepat.

      Dalam hubungannya dengan pengobatan, bagian kulit yang terserang sebaiknya diisolasi dengan membuat batas antara yang sakit dan yang sehat baik secara vertikal dan horizontal. Batas yang sakit selanjutnya ditoreh sampai menyentuh kambium. Jaringan yang sakit kemudian dikerok dan ditutup dengan obat penutup luka.
      Bagian-bagian utama penanggulangan KAS meliputi:

      • Pembuangan/pengikisan/pengerokan kulit (bark scraping) hingga ke dalam 3 mm dari kambium pada hari ke-1.

      • Untuk mencegah serangan hama bubuk dengan penyemprotan insektisida Decis, Matador, Akodan, atau Supracide pada hari ke-1

      • Aplikasi atau pengolesan formula NoBB sekitar 50 ml/pohon pada hari ke-2 30 dan 60

      • Penyadapan kulit sehat dapat diteruskan setelah proses pengobatan selesai yakni mulai hari ke-90

      • Kulit bekas KAS dapat pulih setelah 12 bulan sejak bark scraping dilakukan dan ketebalan kulit mencapai > 7 mm

      • Fakta di lapangan efektivitas penyembuhan dengan teknik ini mencapai 85-95%

      Untuk memperoleh hasil sadap yang baik, penyadapan harus mengikuti aturan tertentu agar diperoleh hasil yang tinggi, menguntungkan, serta berkesinambungan dengan tetap memperhatikan faktor kesehatan tanaman agar tanaman dapat berproduksi secara optimal dan dalam waktu yang lama. Dalam praktiknya untuk kelangsungan produksi, hal yang sangat mendasar adalah di dalam pemulihan bidang sadap. Agar bidang sadap kembali pulih tentu ada yang diperlukan di dalam penyadapannya. Menghindari penggunaan Ethepon pada pohon yang kena kekeringan alur sadap adalah salah satu cara agar bidang sadap dapat kembali pulih dan pohon yang mengalami kekeringan alur sadap perlu diberikan pupuk ekstra untuk mempercepat pemulihan kulit. Mengistirahatkan tanaman dalam waktu tertentu juga merupakan konsep pemulihan bidang sadap, karena tanaman akan mengoptimalkan kembalibagian-bagian tanaman yang telah mengalami pelukaan. Begitu juga dengan pemberian unsur hara untuk kelanjutan tanaman itu sendiri sehingga pertumbuhannya akan lebih optimal tentunya pemulihan bagian-bagian yang disadap.

    • Penyakit Gugur Daun Corynespora

      Penyakit gugur daun corynespora disebabkan oleh cendawan Corynespora cassiicola. Penyakit gugur daun corynespora umumnya pertama kali menyerang daun karet yang masih muda, dengan gejala berupa bercak hitam pada urat atau tulang daun. Gejala tersebut baru akan terlihat setelah daun berwarna hijau muda atau hijau tua. Pada priode selanjutnya gejala tersebut akan berkembang mengikuti tulang atau urat daun meluas ke bagian lainnya sehingga bercak akan tampak seperti tulang ikan. Apabila kondisi lingkungan menguntungkan maka gejala ini akan bertambah meluas dimana bercak akan berbentuk bulat atau tidak teratur. Pada bagian tepi bercak berwarna cokelat dan terdapat sirip-sirip berwarna coklat atau hitam dengan bagian pusat kering. Selanjutnya daun-daun yang sakit tersebut akan menguning atau cokelat dan akhirnya gugur. Serangan cendawan Corynespora cassiicola dapat mengakibatkan gugurnya daun secara terus menerus sehingga tanaman meranggas sepanjang tahun. Akibatnya pertumbuhan tanaman karet menjadi kerdil dan terhambat sehingga tidak mampu atau sedikit menghasilkan latek. Serangan lanjut dapat mengakibatkan matinya tanaman karet. Walaupun telah diketahui bahwa serangan awal dari cendawan Corynespora cassiicola terjadi terutama pada daun-daun muda namun sampai sejauh ini belum diketahui secara tepat stadia umur daun yang mana yang paling rentan terhadap infeksi penyakit gugur daun.

      Gambar 3. Gejala serangan penyakit gugur daun Corynespora pada pembibitan batang bawah (Sumber: Darwis dan Ernaningtyas, 2014)

      Pengendalian penyakit gugur daun Corynespora:

      • Tidak menanam klon yang peka terhadap penyakit gugur daun Corynespora di daerah yang sering terserang penyakit gugur daun Corynespora

      • Pemberian pupuk nitrogen dengan dosis yang tinggi (dua kali dosis anjuran) pada tanaman yang terserang ketika daun-daun baru mulai terbentuk.

      • Klon yang peka pucuknya diokulasi dengan klon yang tahan untuk mendapatkan klon bary yang lebih tahan terhadap penyakit ini.

      • Penyakit ini bisa ditekan penyebabnya dengan bahan kimia Mankozeb dan Tridemorf untuk tanaman yang belum menghasilkan.

    • Penyakit Daun Colletotrichum

      Penyakit daun Colletrotrichum disebabkan oleh Colletotrichum gloeosporioides; Colletotrichum acutatu. Colletotrichum gloeosporioides menyebabkan bercak bundar pada daun dengan diameter 2 mm dan mula-mula berwarna coklat, selanjutnya bagian pusat menjadi abu-abu sampai putih, nekrotis dan sering membelah. Daun-daun muda menjadi kehitaman dan gugur, infeksi pada daun yang lebih tua akan mengakibatkan defoliasi. Bercak dapat berkembang pada tangkai daun dan menginfeksi pada daun muda menyebabkan daun berwarna hijau tua dan berakhir dengan dieback. Sporulasi terjadi pada keadaan yang lembab yang ditandai dengan koloni spora yang berwarna merah jambu atau pink.

      Pada daun-daun yang lebih dewasa infeksi Colletotrichum mengakibatkan tepi serta ujung daun berkeriput dan pada permukaannya terbentuk bercak-bercak bulat berwarna coklat dengan tepi kuning bergaris tengah 1-2 mm. Bila daun-daun bertambah umurnya maka bercak akan berlubang ditengahnya dan bercak-bercak ini menonjol dari permukaan daun. Infeksi Colletotrichum yang hebat dapat mengakibatkan matinya pucuk tanaman.

      Gambar 4. Gejala Serangan penyakit gugur daun Colletotrichum pada pembibitan karet(Sumber: Darwis dan Ernaningtyas, 2014)

      Patogen dapat menyerang daun dan buah, di pembibitan, serta mati ujung pada ranting-ranting yang masih hijau; utamanya menyerang daun muda berumur 5 hari setelah kuncup membuka dan 10 hari saat daun berkembang. Patogen juga dapat menyebabkan gugurnya daun yang baru tumbuh setelah meranggas pada musim penghujan (gugur daun sekunder). Spora tersebar melalui bantuan angin dan percikan air hujan.

      Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan menjaga agar areal pembibitan tidak terlalu lembab; menanam klon karet tahan, sebaiknya tiap klon jangan ditanam lebih dari 200 ha; dan pemupukan yang cukup.

    • Penyakit Gugur Daun Oidium

      Penyakit gugur daun Oidium merupakan penyakit utama pada tanaman karet, penyakit ini disebut juga penyakit embun tepung, menyebabkan kerugian di perkebunan karet baik tanaman belum menghasilkan (TBM) maupun tanaman telah menghasilkan (TM). Selain tanaman belum dan telah menghasilkan, jamur ini juga menyerang tanaman di persemaian, pembibitan, dan kebun entres.

      Gambar 5. Gejala serangan penyakit gugur daun Oidium pada pembibitan batang bawah. Massa tepung berwarna putih melekat pada permukaan bawah daun (A) dan atas daun (B) (Sumber: Darwis dan Ernaningtyas, 2014)

      Serangan berat terjadi bila keadaan cuaca kering diselang-selingi oleh hujan yang singkat di malam hari atau kabut dipagi hari pada waktu tanaman membentuk daun muda (awal musim hujan). Patogen penyebab penyakit ini adalah jamur Oidium heveae.

      Patogen O. heveae terutama menyerang daun-daun muda yang berwarna coklat. Daun yang terserang terlihat berwarna hitam, lemas mengeriput, dan berlendir. Di bawah permukaan daun terdapat bercak putih seperti tepung halus yang terdiri dari atas benang hifa dan spora jamur. Massa tepung jamur tersebut dapat juga menutupi permukaan atas daun. Pada serangan lanjut bagian ujung daun mati, daun melengkung dan akhirnya gugur sehingga tinggal tangkainya saja dan tangkai ini akhirnya gugur juga. Di permukaan tanah dari tanaman yang terserang banyak dijumpai helaian daun yang jatuh.

      Pada daun yang lebih tua, gejala serangan ditandai adanya bercak kekuningan atau coklat, kemudian berkembang membentuk bintik-bintik nekrotik yang dapat mengurangi efisiensi fotosintesis. Pada daun tua ini juga terdapat tepung halus berwarna putih dipermukaan, namun daun-daun tersebut tidak banyak yang gugur hanya beberapa saja. Embun tepung termasuk penyakit yang merugikan karena mengakibatkan daun-daun yang masih muda berguguran, akibatnya pertumbuhan tanaman terhambat dan produktifitas menurun, sehingga produksi latek juga menurun. Selain itu jamur ini dapat juga menyerang bunga, sehingga produksi biji sedikit.

      Penyakit ini mengakibatkan gugurnya daun muda yang baru terbentuk sesudah masa gugur daun alami. Akibatnya pertumbuhan tanaman terhambat, produksi lateks menurun dan biji yang dihasilkan sedikit. Kebun yang sering mendapat serangan berat adalah kebun yang terletak pada ketinggian di atas 200 meter dari permukaan laut.

      Jamur Oidium heveae mempunyai benang-benang hifa berwarna putih menghasilkan spora tidak berwarna. Spora mudah diterbangkan oleh angin atau embun, dan mudah tercuci oleh air hujan dari permukaan daun sehingga penyakit ini hanya timbul pada awal musim hujan. Spora jamur ini disebarkan oleh angin dan embun. Klon-klon rentan sebaiknya tidak ditanam di daerah yang rawan penyakit gugur daun oidium, seperti GT1, PR255, dan WR101.
      Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara:

      • Merangsang pembentukan daun baru lebih cepat atau lebih awal, sehingga dapat terhindari dari serangan O. heveae pada saat musim hujan. Pembentukan daun baru dapat dirangsang dengan pemberian pupuk Nitrogen satu kali dosis anjuran. Pupuk nitrogen berfungsi untuk merangsang pembentukan daun baru lebih cepat atau lebih awal sehingga diharapkan daun tanaman telah menjadi hijau pada waktu O. heveae menyerang pada awal musim hujan.

      • Melindungi tanaman dengan fungisida Bayfidan 250 EC, Bayleton 250 EC, belerang atau Tilt 250 EC. Pengunaan fungisida dilakukan seminggu sekali sebanyak 5 kali, dimulai pada waktu 10% pohon membentuk daun baru dan gejala Oidium mulai muncul. Pengunaan tepung belerang 10-15 kg/ha dilakukan dengan cara penghembusan dengan alat penghembus bermotor pada pagi hari agar fungisida mudah melekat pada permukaan daun yang masih basah dan tidak mudah diterbangkan oleh angin. Sedangkan pengunaan Bayleton 250 EC, Bayfidan 250 EC atau Tilt 250 EC dilakukan dengan alat penyemprot bermotor atau alat pengabut.

      • Pada tanaman menghasilkan (TM) pengendalian menggunakan fungisida tidak ekonomis, biasanya serangan penyakit ini dibiarkan saja (tidak dikendalikan). Pada tanaman TM pengendalian dilakukan dengan pemberian pupuk ekstra pada awal dan akhir musim hujan.

      • Agar serangan penyakit dapat diketahui lebih dini, penyakit gugur daun Oidium dapat dilakukan peramalan dengan cara memonitor gejala serangan di lapangan. Caranya: pengamatan serangan dilakukan setiap hari, dimulai pada saat tanaman mulai membentuk daun baru hingga daun menjadi hijau. Jika diketahui adanya serangan penyakit embun tepung, secepatnya dilakukan pengendalian.

      • Peramalan juga dapat dilakukan dengan mengamati keadaan cuaca, bila keadaan cuaca kering diselang-selingi oleh hujan yang singkat atau rintik-rintik serta adanya kabut di malam atau pagi hari pada waktu tanaman sedang membentuk daun baru, maka diramalkan akan timbul serangan jamur. Dengan demikian tindakan penangulangan dapat dipersiapkan segera.

      Serangan patogen pada tanaman tanaman karet menyebabkan gugurnya daun, terhambatnya pertumbuhan tanaman, menurunnya produksi lateks dan sedikitnya biji yang dihasilkan. Beberapa penyebab penyakit menunjukkan gejala yang sama. Serangan jamur Corynospora, Colletotrichum dan Oidium pada tanaman karet menunjukkan gejala gugur daun. Penyakit pada tanaman karet dapat dikendalikan dengan menggabungkan beberapa metode pengendalian.

DAFTAR PUSTAKA

Agrios, GN. 1996. Ilmu Penyakit Tumbuhan (Terjemahan Munzir Busnia). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Darwis, HS dan Ernaningtyas, Y. 2014. Beberapa Jenis Penyakit Daun di Pembibitan Karet. Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Medan. Available at http://ditjenbun.pertanian.go.id/bbpptpmedan/berita-288-beberapa-jenis-penyakit-daun-di-pembibitan-karet.html. (diakses 5 Februari 2015).
Harni, R. 2013. Penyakit Gugur Daun Oidium Pada Tanaman Karet. Available at http://balittri.litbang.pertanian.go.id/index.php/component/content/article/49-infotekno/175-penyakit-gugur-daun-oidium-pada-tanaman-karet (diakses 8 Februari 2015).
Nurhayati, dkk. 2006. Uji Kerentanan Daun Karet terhadap Jamur Corynespora cassiicola. Jurnal Tanaman Tropika 9(2)102-109. Available at http://eprints.unsri.ac.id/1043/1/uji_kerentanan_daun_pdf.pdf. (diakses 9 Februari 2015).
Sirait DDN dan Syahnen. 2014. Pengembangan dan Aplikasi Teknologi Pengendalian Penyakit Kering Alur Sadap (KAS) Pada Tanaman Karet di Propinsi Sumatera Selatan. Avilable at http://ditjenbun.pertanian.go.id/bbpptpmedan/tinymcpuk/gambar/file/Teknologi_Pengendalian_KAS(1).pdf. (diakses 15 Februari 2015).
Yulfahri, dkk. 2012. Pengendalian Jamur Akar Putih Pada Budidaya Karet. Available at http://www.riau.litbang.deptan.go.id

VIDEO KARANTINA

AGENDA KEGIATAN